Njajan.com
Njajan.com adalah situs kuliner Indonesia terbaru dan viral di seluruh nusantara. Njajancom membahas tentang resep masakan rumahan, tempat makan murah enak, bisnis kuliner, makanan tradisional, makanan sehat, dan makanan viral.

Beeru Stevia Pemanis Buatan? Ini Fakta, Dugaan Kandungan, dan Klarifikasi Terbaru

Beeru Stevia pemanis buatan menjadi sorotan setelah dugaan kandungan sukralosa dan neotam. Simak fakta, klarifikasi, dan pemeriksaan BPOM.

Beeru Stevia Pemanis Buatan


Njajan.com - Beeru Stevia merupakan produk pemanis yang dipasarkan sebagai alternatif gula untuk membantu memberikan rasa manis pada makanan dan minuman. Produk ini menarik perhatian konsumen yang ingin mengurangi penggunaan gula pasir, termasuk mereka yang sedang mengatur asupan kalori sehari-hari.

Namun, pada 28–29 Oktober 2026, Beeru Stevia menjadi sorotan setelah muncul dugaan ketidaksesuaian antara klaim produk dan kandungan yang ditampilkan dalam hasil pengujian laboratorium independen. Isu tersebut memicu pertanyaan di kalangan konsumen: apakah Beeru Stevia benar-benar menggunakan pemanis alami dari stevia, atau justru mengandung pemanis buatan yang tidak tercantum pada label?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting membedakan informasi produk yang tercatat, hasil pengujian yang beredar, tanggapan perusahaan, dan hasil pemeriksaan resmi pemerintah. Berikut pembahasan mengenai Beeru Stevia pemanis buatan berdasarkan informasi yang tersedia hingga 29 Oktober 2026.

Baca juga: Kadar Gula Tetap Aman dan Stabil Dengan Konsumsi Rutin Vitameal Sereal Rendah Gula

Apa Itu Beeru Stevia?

Beeru Stevia adalah produk pemanis yang dipasarkan sebagai pemanis alami berbasis glikosida steviol, yaitu senyawa pemanis yang berasal dari tanaman stevia. Informasi produk yang tersedia di salah satu apotek daring mencantumkan komposisi berupa pemanis alami glikosida steviol dan air. Produk tersebut juga dipasarkan dalam kemasan botol kecil, termasuk ukuran 15 ml.

Stevia sendiri berasal dari tanaman Stevia rebaudiana. Ekstrak daunnya mengandung senyawa yang memiliki tingkat kemanisan tinggi sehingga dapat digunakan dalam jumlah kecil untuk memberikan rasa manis.

Karena itu, pemanis berbasis stevia kerap menjadi pilihan bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi gula pasir. Meski demikian, karakteristik suatu produk tetap bergantung pada formulasi, komposisi, dan jumlah penggunaannya.

Penting dipahami bahwa nama atau klaim pada kemasan tidak cukup untuk memastikan seluruh kandungan produk. Informasi komposisi, label nilai gizi, hasil pengujian, serta status registrasi perlu diperiksa secara bersamaan.

Mengapa Beeru Stevia Menjadi Sorotan?

Perhatian publik terhadap Beeru Stevia bermula dari unggahan kreator konten yang dikenal sebagai Dokter Detektif atau Doktif pada 28 Oktober 2026. Ia mempertanyakan kesesuaian kandungan produk dengan klaim yang dipasarkan, terutama terkait nol kalori dan penggunaan stevia sebagai pemanis.

Dalam hasil pengujian laboratorium independen yang ditampilkan Doktif, terdapat sejumlah angka yang menjadi perhatian, yaitu:

  • Kandungan karbohidrat sebesar 47,21 persen.

  • Energi total sebesar 188,84 kilokalori per 100 gram sampel.

  • Dugaan kandungan sukralosa sebesar 101.297,89 mg/L.

  • Dugaan kandungan neotam sebesar 5.280,99 mg/L.

Angka tersebut merupakan hasil pengujian yang dibagikan oleh Doktif dan diberitakan sejumlah media. Hasil itu belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan resmi pemerintah mengenai kandungan maupun keamanan produk.

Karena itu, informasi tersebut perlu dibaca secara proporsional. Temuan laboratorium independen dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tetapi kesimpulan akhir harus mempertimbangkan validitas metode pengujian, satuan pengukuran, kategori produk, dan ketentuan yang berlaku.

Apakah Beeru Stevia Mengandung Pemanis Buatan?

Pertanyaan mengenai Beeru Stevia pemanis buatan muncul karena dugaan keberadaan dua senyawa, yakni sukralosa dan neotam. Keduanya termasuk pemanis intensitas tinggi yang dapat memberikan rasa manis dalam jumlah kecil.

Namun, ada perbedaan antara menyatakan bahwa suatu produk diduga mengandung pemanis buatan berdasarkan hasil pengujian independen dan menyimpulkan bahwa kandungannya telah terkonfirmasi oleh regulator.

Hingga 29 Oktober 2026, BPOM masih melakukan penelusuran, pengambilan sampel, dan pengujian terhadap Beeru Stevia. Dengan demikian, belum tepat menyatakan bahwa dugaan tersebut sudah menjadi keputusan resmi BPOM.

Apa itu sukralosa?

Sukralosa merupakan pemanis buatan yang memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi dibandingkan gula pasir. Bahan ini digunakan dalam sejumlah produk pangan untuk memberikan rasa manis tanpa harus menambahkan gula dalam jumlah yang sama.

Penggunaannya dalam pangan diatur berdasarkan kategori produk dan batas maksimum yang berlaku. Keberadaan sukralosa tidak otomatis berarti suatu produk berbahaya. Penilaian keamanan memerlukan informasi tentang konsentrasi, jumlah konsumsi, dan kesesuaian penggunaannya dengan peraturan.

Apa itu neotam?

Neotam juga merupakan pemanis intensitas tinggi yang digunakan dalam formulasi pangan tertentu. Karena tingkat kemanisannya tinggi, penggunaannya dapat dilakukan dalam jumlah kecil.

Seperti sukralosa, keamanan dan kepatuhan penggunaan neotam harus dinilai berdasarkan ketentuan yang relevan. Tidak cukup hanya melihat nama bahan atau satu angka hasil pengujian tanpa memahami kategori pangan dan metode pengukurannya.

Dalam kasus Beeru Stevia, keberadaan serta kadar kedua senyawa tersebut masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Klarifikasi Beeru Indonesia dan Status Penjualan

Menanggapi polemik yang berkembang, Beeru Indonesia menyampaikan pernyataan pada 28 Oktober 2026. Perusahaan menyatakan sedang menelusuri informasi yang beredar, berkoordinasi dengan mitra manufaktur, dan melakukan verifikasi lebih lanjut. Beeru juga menyampaikan permohonan maaf atas kekhawatiran yang muncul di kalangan konsumen.

Perusahaan menjelaskan bahwa formulasi, pengadaan bahan baku, dan proses produksi Beeru Stevia ditangani melalui kerja sama dengan mitra manufaktur. Dalam perkembangan tersebut, Beeru memutuskan menghentikan sementara penjualan produk hingga proses verifikasi selesai.

Sementara itu, CV M3 OIL selaku pihak manufaktur menyatakan sedang melakukan pengujian melalui dua laboratorium terakreditasi. Menurut laporan Kumparan pada 29 Oktober 2026, pihak manufaktur juga menyebut telah mengirimkan 150 botol sampel produksi untuk diuji dan terbuka terhadap pemeriksaan pihak berwenang.

Langkah verifikasi ini penting untuk menjelaskan apakah terdapat ketidaksesuaian antara komposisi aktual, informasi pada label, dan klaim pemasaran produk. Hasil pemeriksaan resmi nantinya diperlukan agar konsumen memperoleh informasi yang lebih jelas.

Bagaimana Status Registrasi BPOM Beeru Stevia?

Berdasarkan informasi yang dimuat dalam laporan Kumparan, Beeru Stevia tercatat dengan nomor registrasi BPOM MD 878011037370 dan didaftarkan oleh CV M3 OIL.

Pencatatan nomor registrasi merupakan informasi penting ketika konsumen memeriksa legalitas produk pangan olahan. Akan tetapi, nomor registrasi tidak seharusnya dianggap sebagai bukti bahwa setiap klaim pemasaran atau setiap hasil pengujian terhadap produk pasti benar.

Ada beberapa hal yang perlu dibedakan:

  • Status registrasi: berkaitan dengan pencatatan produk dalam sistem perizinan yang relevan.

  • Kesesuaian label: berkaitan dengan ketepatan informasi komposisi dan nilai gizi yang disampaikan kepada konsumen.

  • Kesesuaian kandungan: berkaitan dengan bahan dan kadar yang benar-benar terdapat dalam produk.

  • Keamanan produk: memerlukan penilaian berdasarkan bukti ilmiah dan ketentuan yang berlaku.

Keempat hal tersebut saling berkaitan, tetapi tidak dapat dianggap sebagai satu hal yang sama.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Konsumen?

Bagi konsumen yang menggunakan Beeru Stevia untuk kopi, teh, atau minuman sehari-hari, perkembangan kasus ini menjadi pengingat agar lebih teliti dalam memilih pemanis.

Pertama, periksa komposisi dan informasi nilai gizi pada kemasan. Jangan hanya mengandalkan klaim seperti natural sweetener, zero calorie, atau pemanis alami. Informasi pada label perlu dibaca secara menyeluruh.

Kedua, perhatikan pembaruan dari perusahaan dan BPOM. Mengingat pemeriksaan masih berlangsung berdasarkan informasi terakhir yang ditemukan, konsumen sebaiknya tidak menganggap dugaan yang beredar sebagai kesimpulan final.

Ketiga, bagi yang masih memiliki produk tersebut, pertimbangkan untuk menunda penggunaannya sampai ada kejelasan mengenai hasil pemeriksaan resmi. Langkah kehati-hatian ini tidak berarti produk telah terbukti berbahaya, melainkan cara mengurangi ketidakpastian selama verifikasi berlangsung.

Terakhir, jangan langsung menganggap semua pemanis stevia memiliki karakteristik yang sama. Produk berbasis stevia dapat memiliki formulasi berbeda, sehingga komposisi, informasi gizi, dan status regulasinya perlu diperiksa secara individual.

FAQ tentang Beeru Stevia Pemanis Buatan

1. Apakah Beeru Stevia benar-benar mengandung pemanis buatan?

Terdapat dugaan kandungan sukralosa dan neotam berdasarkan hasil pengujian independen yang dibagikan Doktif. Namun, hingga 29 Oktober 2026, BPOM masih melakukan pengujian sehingga belum ada kesimpulan resmi regulator mengenai dugaan tersebut.

2. Apakah Beeru Stevia aman dikonsumsi?

Keamanan produk dalam polemik ini belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan informasi yang tersedia. Konsumen sebaiknya memperhatikan hasil pemeriksaan resmi BPOM sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.

3. Apa perbedaan stevia, sukralosa, dan neotam?

Stevia berasal dari tanaman Stevia rebaudiana, sedangkan sukralosa dan neotam merupakan pemanis buatan. Ketiganya dapat digunakan untuk memberikan rasa manis, tetapi memiliki asal dan karakteristik yang berbeda.

4. Apakah Beeru Stevia sudah terdaftar di BPOM?

Produk ini tercatat dengan nomor registrasi MD 878011037370 berdasarkan informasi yang diberitakan Kumparan. Namun, status registrasi tidak menggantikan pemeriksaan atas dugaan ketidaksesuaian kandungan produk.

5. Apakah Beeru Stevia masih dijual?

Beeru Indonesia mengumumkan penghentian sementara penjualan pada 28 Oktober 2026 selama proses verifikasi berlangsung. Status penjualan setelah tanggal tersebut perlu diperiksa melalui pengumuman terbaru dari perusahaan.

Kesimpulan

Beeru Stevia merupakan produk pemanis berbasis stevia yang menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan kandungan sukralosa dan neotam serta pertanyaan mengenai klaim nol kalori. Isu tersebut menegaskan pentingnya transparansi komposisi dan kesesuaian informasi produk dengan hasil pengujian.

Hingga 29 Oktober 2026, BPOM masih melakukan penelusuran dan pengujian. Beeru Indonesia telah mengumumkan penghentian sementara penjualan, sementara pihak manufaktur menyatakan sedang melakukan pengujian tambahan. Oleh sebab itu, informasi yang beredar perlu diperlakukan sebagai dugaan sampai hasil pemeriksaan resmi tersedia.

Bagi konsumen, pilihan paling bijak adalah memeriksa label dengan cermat, mengikuti perkembangan dari sumber tepercaya, dan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa suatu produk aman atau berbahaya tanpa bukti yang memadai.

Jika artikel Njajan.com bermanfaat, jangan lupa bagikan ke teman kamu agar mereka juga tahu informasi ini.

Sumber Referensi

  1. detikHealth — BPOM Telusuri Polemik Viral Kasus Pemanis Beeru Stevia, Tunggu Hasil Uji Lab, 29 Oktober 2026.

  2. Tirto — Kronologi Isi Gula Stevia Beeru Diduga Tak Sesuai dan Klarifikasinya, 29 Oktober 2026.

  3. Kumparan — Ramai soal Kandungan Beeru Stevia, BPOM Ambil Sampel dan Lakukan Pengujian, 29 Oktober 2026.

  4. Sahabat BPOM — Informasi Registrasi Bahan Tambahan Pangan Pemanis Alami Glikosida Steviol, BEERU.

  5. VIVA Apotek — Beeru Stevia Natural Sweetener Pemanis Alami 15 ml.

Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga 29 Oktober 2026. Perkembangan hasil pemeriksaan BPOM setelah tanggal tersebut perlu diverifikasi sebelum artikel diterbitkan atau diperbarui.

Posting Komentar