Ampas Kedelai Disulap Jadi Daging, Inovasi Jiro Meat Ini Bikin Limbah Pangan Lebih Bernilai

Ampas Kedelai Disulap Jadi Daging, Inovasi Jiro Meat Ini Bikin Limbah Pangan Lebih Bernilai


Njajan.com - Selama ini, ampas kedelai mungkin dianggap sebagai sisa produksi yang kurang menarik. Setelah kedelai diolah menjadi tahu atau susu kedelai, bagian padat yang tertinggal biasanya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau diolah menjadi makanan tertentu.

Namun, bagaimana jika ampas kedelai justru bisa menjadi bahan baku daging alternatif?

Inilah yang dikembangkan oleh Mottainai Food Tech, perusahaan teknologi pangan asal Singapura. Melalui produk bernama Jiro Meat, mereka mengubah ampas kedelai menjadi bahan pangan menyerupai daging cincang menggunakan teknologi fermentasi.

Inovasi ini menarik bukan hanya karena menghasilkan alternatif daging berbasis tumbuhan, tetapi juga karena memanfaatkan bahan yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Menariknya, Jiro Meat tidak dibuat dengan cara menumbuhkan sel hewan di laboratorium. Produk ini memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah ampas kedelai sehingga menghasilkan bahan pangan dengan karakteristik yang lebih menyerupai daging.

Baca juga: Beras Ini Tak Perlu Dimasak, Cukup Direndam Siap Dimakan

Mengenal Jiro Meat, Daging Alternatif dari Ampas Kedelai

Jiro Meat merupakan produk daging nabati yang dikembangkan Mottainai Food Tech, perusahaan rintisan yang berbasis di Singapura.

Bahan utamanya adalah okara, yaitu ampas kedelai yang dihasilkan dari proses pembuatan susu kedelai dan tahu.

Okara sebenarnya masih mengandung berbagai zat gizi, termasuk protein dan serat. Sayangnya, bahan ini sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal.

Mottainai Food Tech melihat adanya peluang untuk mengubah hasil samping industri kedelai tersebut menjadi bahan pangan bernilai lebih tinggi.

Alih-alih membuang atau hanya menjadikannya pakan ternak, perusahaan ini mengembangkan proses fermentasi untuk menghasilkan Jiro Meat.

Produk tersebut dirancang sebagai daging cincang nabati yang dapat digunakan dalam berbagai olahan makanan. Dengan demikian, produsen makanan memiliki alternatif bahan baku selain daging hewani.

Menurut informasi Singapore Food Manufacturers, Jiro Meat merupakan produk berbasis tumbuhan yang dibuat melalui proses fermentasi padat atau solid-state fermentation. Produk ini juga tercatat sebagai daging nabati bersertifikasi halal.

Bagaimana Ampas Kedelai Bisa Berubah Menjadi Daging?

Bagian paling menarik dari Jiro Meat adalah teknologi yang digunakan untuk mengolah bahan bakunya.

Mottainai Food Tech menggunakan metode solid-state fermentation atau fermentasi dalam kondisi padat.

Secara sederhana, proses ini memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk mengubah karakteristik bahan pangan. Mikroorganisme bekerja pada bahan yang memiliki kadar air tertentu, tetapi tidak berada dalam kondisi cair seperti fermentasi pada pembuatan minuman.

Dalam pengembangan Jiro Meat, ampas kedelai yang awalnya memiliki tekstur berserat dan rasa relatif hambar diolah melalui proses tersebut.

Hasilnya adalah bahan pangan dengan karakter rasa yang lebih gurih dan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif daging.

Menurut laporan The Business Times yang diterbitkan pada 23 Juli 2025, proses fermentasi Jiro Meat membutuhkan waktu sekitar dua hari.

Menariknya, Mottainai menggunakan pendekatan yang berbeda dari fermentasi cair. Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa bahan yang dimasukkan ke dalam proses fermentasi menjadi bagian dari produk akhir, sehingga pendekatan ini dapat meminimalkan sisa bahan proses.

Teknologi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Jiro Meat menarik untuk diperhatikan. Bukan hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga mencoba memaksimalkan pemanfaatan bahan baku yang sebelumnya kurang bernilai.

Bukan Daging Laboratorium, Ini Perbedaan Jiro Meat dan Cultivated Meat

Ketika membicarakan teknologi pangan masa depan, ada istilah yang sering muncul, yaitu cultivated meat atau daging hasil kultur sel.

Sekilas, Jiro Meat mungkin terdengar seperti produk sejenis. Padahal, keduanya memiliki proses pembuatan yang sangat berbeda.

Cultivated meat dibuat dengan mengembangkan sel hewan dalam lingkungan yang dikendalikan, biasanya menggunakan bioreaktor. Sel tersebut kemudian dikembangkan hingga membentuk jaringan yang menyerupai daging.

Sementara itu, Jiro Meat tidak menggunakan sel hewan sebagai bahan utama. Produk ini berasal dari ampas kedelai yang diolah melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme.

Artinya, Jiro Meat lebih tepat disebut sebagai daging alternatif nabati berbasis hasil samping industri pangan, bukan daging hasil kultur sel.

Perbedaan ini penting karena inovasi pangan masa depan tidak hanya mengandalkan satu teknologi. Fermentasi, protein nabati, dan kultur sel merupakan beberapa pendekatan berbeda yang sama-sama berupaya menghadirkan sumber pangan alternatif.

Pembahasan BBC mengenai pemanfaatan limbah pangan juga menyoroti bagaimana fermentasi dapat mengubah bahan sisa industri menjadi produk makanan yang lebih bernilai.

Salah satu contohnya adalah pemanfaatan okara oleh Mottainai Food Tech untuk menghasilkan alternatif daging bernama Jiro Meat.

Kandungan Gizi dan Keunggulan Jiro Meat

Selain memanfaatkan bahan sisa produksi kedelai, Jiro Meat juga dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik gizinya.

The Business Times melaporkan bahwa produk ini memiliki kandungan protein dan serat yang tinggi, serta relatif rendah natrium dan lemak jenuh.

Kombinasi tersebut membuat Jiro Meat berpotensi menjadi salah satu pilihan bahan pangan alternatif bagi industri makanan.

Keunggulan lainnya adalah kemampuannya untuk diintegrasikan ke dalam berbagai resep. Karena dikembangkan dalam bentuk bahan menyerupai daging cincang, penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan produsen makanan.

Mottainai juga menyebutkan bahwa Jiro Meat memiliki kehilangan berat yang relatif rendah selama proses memasak. Karakteristik ini dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku di dapur komersial.

Dari sisi harga, perusahaan menargetkan produk ini agar dapat ditawarkan dengan harga yang sebanding dengan daging ayam asli.

Meski demikian, karakteristik rasa, tekstur, dan kandungan gizi produk tetap perlu diperhatikan sesuai jenis makanan yang dibuat.

Diproduksi di Singapura dan Mulai Menyasar Industri Makanan

Jiro Meat bukan sekadar eksperimen di laboratorium. Produk ini telah memasuki tahap pengembangan produksi untuk kebutuhan komersial.

Mottainai Food Tech meresmikan fasilitas produksi percontohannya di kawasan Jurong, Singapura, pada Juli 2025.

Menurut laporan The Business Times, fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 200 kilogram Jiro Meat setiap dua hari.

Pada tahap awal, perusahaan lebih memilih memasok produk kepada pelaku usaha makanan dibandingkan menjualnya langsung kepada konsumen.

Sasarannya antara lain produsen dim sum, perusahaan pengolahan makanan, restoran, hotel, dan penyedia layanan makanan lainnya.

Strategi tersebut cukup masuk akal. Produsen makanan profesional dapat mengolah Jiro Meat dengan bumbu dan bahan tambahan lain sehingga menghasilkan produk akhir yang sesuai dengan selera konsumen.

Perusahaan juga membuka peluang kerja sama dengan pembeli dalam skala lebih besar untuk memperluas distribusi produknya.

Jika permintaan meningkat, kapasitas fasilitas tersebut direncanakan dapat ditingkatkan hingga 400 kilogram setiap dua hari.

Baca juga: Mi Instan Bisa Diseduh Pakai Air Dingin, Hiyashi Cup Noodle Hadir di Jepang

Mengapa Pemanfaatan Ampas Kedelai Menjadi Penting?

Inovasi Jiro Meat sebenarnya membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar menciptakan daging alternatif.

Industri makanan menghasilkan berbagai bahan sisa dari proses produksinya. Tidak semuanya merupakan sampah yang benar-benar tidak berguna.

Ampas kedelai adalah salah satu contohnya. Bahan ini masih memiliki kandungan nutrisi, tetapi pemanfaatannya belum tentu optimal.

Dengan bantuan teknologi fermentasi, bahan tersebut bisa diolah menjadi produk pangan baru yang memiliki nilai ekonomi.

Pendekatan ini dikenal sebagai food upcycling, yaitu upaya meningkatkan nilai bahan pangan sampingan atau sisa produksi agar dapat dimanfaatkan kembali.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan ekonomi sirkular. Bahan yang sebelumnya menjadi keluaran dari satu proses produksi dapat digunakan kembali sebagai bahan baku dalam proses lainnya.

Jika diterapkan secara luas, pendekatan seperti ini berpotensi membantu mengurangi pemborosan sumber daya sekaligus membuka peluang bisnis baru di industri pangan.

Tentu saja, keberhasilannya tetap bergantung pada ketersediaan bahan baku, keamanan pangan, konsistensi produksi, serta penerimaan konsumen.

Apakah Daging Alternatif seperti Jiro Meat Bisa Menjadi Masa Depan Pangan?

Jiro Meat menunjukkan bahwa inovasi pangan tidak selalu harus dimulai dari bahan yang mahal atau teknologi yang rumit.

Terkadang, peluang justru datang dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak terlalu berharga.

Ampas kedelai yang tersisa setelah pembuatan tahu dan susu kedelai ternyata bisa dikembangkan menjadi bahan pangan alternatif melalui fermentasi.

Namun, apakah produk seperti ini nantinya bisa menggantikan daging ayam atau sapi?

Jawabannya masih bergantung pada banyak faktor, mulai dari harga, cita rasa, tekstur, kandungan gizi, hingga kebiasaan makan masyarakat.

Jiro Meat juga belum bisa dianggap sebagai pengganti seluruh kebutuhan daging hewani. Produk ini lebih tepat dilihat sebagai tambahan pilihan bahan pangan berbasis tumbuhan.

Meski demikian, inovasi Mottainai Food Tech memperlihatkan bahwa masa depan industri makanan mungkin tidak hanya ditentukan oleh bagaimana kita menghasilkan bahan pangan baru, tetapi juga bagaimana kita memanfaatkan bahan yang sudah tersedia.

Siapa sangka, ampas kedelai yang sering dianggap sebagai hasil samping produksi tahu justru bisa menjadi bahan dasar untuk menciptakan daging alternatif.

Dari sini, satu hal menjadi menarik untuk dipikirkan: mungkin saja makanan masa depan bukan berasal dari bahan yang benar-benar baru, melainkan dari sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai sisa.

Referensi artikel


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak