Njajan.com - Umumnya, beras harus dicuci kemudian dimasak menggunakan air dan panas hingga berubah menjadi nasi. Namun, ada beras tradisional dari India yang memiliki cara konsumsi berbeda. Beras tersebut cukup direndam dalam air sebelum siap disantap.
Beras unik ini dikenal dengan nama Komal Saul atau Boka Saul. Masyarakat Assam, India, bahkan menjulukinya sebagai Magic Rice atau beras ajaib karena dapat dikonsumsi tanpa proses memasak seperti beras pada umumnya.
Baca juga: 7 Kesalahan Masak Nasi yang Menyebabkan Rasanya Tidak Enak
Komal Saul, beras tradisional dari Assam
Komal Saul merupakan beras tradisional yang berasal dari Assam, India. Salah satu wilayah yang dikenal sebagai tempat budidayanya adalah Majuli, pulau yang berada di tengah aliran Sungai Brahmaputra.
Nama Komal Saul secara sederhana merujuk pada karakter beras yang lunak. Beras ini berasal dari varietas beras ketan yang disebut Bora Saul.
Keistimewaannya tidak muncul begitu saja. Sebelum dijual atau dikonsumsi, beras tersebut melewati proses pengolahan khusus.
Bora Saul terlebih dahulu direndam selama semalaman, kemudian direbus sebentar dan dikeringkan di bawah sinar matahari selama kurang lebih 24 jam. Proses tersebut membuat beras berada dalam kondisi setengah matang.
Karena sudah mengalami proses pengolahan sebelumnya, Komal Saul tidak membutuhkan waktu memasak selama beras biasa.
Cukup direndam sebelum dimakan
Cara mengonsumsi Komal Saul terbilang praktis. Beras dapat direndam menggunakan air hangat selama sekitar 10-15 menit.
Jika menggunakan air dingin, waktu perendamannya lebih lama, yakni sekitar 30 menit.
Setelah direndam, butiran beras akan mengembang dan menjadi lunak. Teksturnya kemudian bisa langsung dikonsumsi tanpa perlu dimasak menggunakan kompor atau rice cooker.
Meski praktis, penggunaan air tetap perlu diperhatikan. Air yang digunakan untuk merendam harus merupakan air minum yang bersih dan aman.
Mengapa beras ini cepat lunak?
Salah satu penjelasan mengenai karakter Komal Saul berkaitan dengan kandungan amilosanya.
Berdasarkan penelitian yang dikutip NDTV Food, kandungan amilosa pada beras ini tergolong sangat rendah, sekitar 4-5 persen. Sebagai perbandingan, beras biasa dapat memiliki kandungan amilosa sekitar 20-25 persen.
Amilosa merupakan salah satu komponen pati yang berpengaruh terhadap tekstur nasi. Kandungan yang lebih rendah membuat Komal Saul memiliki karakter yang lebih lunak setelah terkena air.
Karakter tersebut juga membuat beras ini dikenal mudah dikonsumsi dan dianggap lebih ringan bagi pencernaan.
Biasanya disantap dengan berbagai pelengkap
Walaupun cara menyiapkannya sederhana, masyarakat Assam memiliki beragam cara untuk menikmati Komal Saul.
Beras ini dapat disantap bersama minyak mustard dan bawang. Ada pula yang menyajikannya bersama aloo pitika, yaitu olahan kentang tumbuk khas Assam, serta acar.
Komal Saul juga dapat diolah menjadi Jolpaan, hidangan sarapan tradisional yang populer di Assam.
Dalam sajian tersebut, beras yang sudah dilunakkan dicampur dengan dadih atau yogurt, gula jawa (jaggery), krim, dan bubuk pisang. Jolpaan biasanya hadir dalam berbagai perayaan maupun acara penting masyarakat setempat.
Dikembangkan menjadi produk makanan instan
Potensi Komal Saul tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal. Para peneliti di Central Rice Research Institute (CRRI) di Cuttack juga mengembangkan varietas yang masih memiliki karakter serupa, yakni Agonibora.
Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa konsep beras yang dapat disiapkan dengan waktu singkat berpotensi diterapkan di wilayah lain. Varietas terkait juga disebut berpotensi dibudidayakan di sejumlah wilayah India seperti Andhra Pradesh, Bihar, dan Benggala Barat.
Bahkan, sebuah perusahaan di Guwahati mengembangkan Komal Saul dalam konsep makanan instan. Produk tersebut dirancang agar konsumen cukup menambahkan air panas untuk membuat hidangan seperti nasi pulao atau nasi dengan sayuran.
Bisa menghemat waktu dan energi
Keunggulan utama Komal Saul bukan sekadar cara makannya yang unik. Beras ini juga memiliki potensi menghemat penggunaan energi karena tidak membutuhkan proses memasak panjang.
Hal tersebut menjadi penting di wilayah pedesaan yang masih mengandalkan kayu bakar untuk memasak. Waktu memasak yang lebih singkat berarti penggunaan bahan bakar dapat dikurangi sekaligus membantu mengurangi asap yang dihasilkan.
Jadi, Komal Saul bukan sekadar beras yang bisa langsung dimakan setelah direndam. Di balik keunikannya terdapat proses pengolahan tradisional dan karakteristik pati yang membuatnya dapat disiapkan jauh lebih cepat dibandingkan beras biasa.
Catatan: Jika ingin mencoba metode penyajian seperti ini, pastikan produk yang digunakan memang Komal Saul atau beras sejenis yang telah melalui proses pengolahan khusus. Beras mentah biasa tidak dapat dikonsumsi hanya dengan direndam.


Posting Komentar