Njajan.com - Serabi Notosuman Ny. Handayani menjadi salah satu kuliner legendaris yang melekat dengan Kota Solo, Jawa Tengah. Usaha keluarga ini telah berjalan sejak 1923 dan kini memasuki generasi keempat.
Selama lebih dari satu abad, resep dasar dan cita rasa serabi tetap dipertahankan. Di tengah tren kuliner yang terus berubah, pengelola justru memilih tidak terlalu banyak melakukan inovasi pada produk utamanya.
Pemilik generasi keempat, Yohana Mayin, mengatakan prinsip tersebut sudah ditanamkan oleh generasi sebelumnya.
Resep serabi yang digunakan hingga sekarang disebut masih mengikuti racikan keluarga. Pilihan rasa pada Serabi Notosuman Ny. Handayani juga dibuat sederhana, yakni original dan cokelat.
Baca juga: Biji Kopi Disimpan 22 Tahun, Harga Secangkir Kopi Rp 13 Juta
Berawal dari Jualan di Pinggir Jalan
Perjalanan Serabi Notosuman Ny. Handayani bermula pada 1923. Nenek buyut Yohana saat itu mulai membuat serabi dan menjualnya di sekitar kawasan Notosuman, Solo.
Kawasan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari identitas serabi khas Solo. Nama Jalan Notosuman sendiri kini telah berubah menjadi Jalan Mohammad Yamin.
Menurut cerita keluarga, serabi yang dijual pada masa awal bahkan sempat dikenal dengan sebutan "serabi Inggris", yang dikaitkan dengan pengaruh masa penjajahan Inggris.
Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Pada sekitar dekade 1980-an, bisnis keluarga dilanjutkan oleh ibu Yohana, Handayani, bersama saudara-saudaranya.
Nama Ny. Handayani kemudian melekat pada usaha serabi tersebut hingga sekarang.
Resep Tidak Banyak Berubah
Salah satu alasan Serabi Notosuman Ny. Handayani mampu mempertahankan karakter produknya selama puluhan tahun adalah konsistensi resep.
Alih-alih mengikuti setiap tren makanan baru, keluarga memilih mempertahankan rasa yang sudah dikenal pelanggan.
Hingga kini, serabi utamanya tersedia dalam rasa original dan cokelat. Varian telur yang pernah dijual sebelumnya sudah tidak lagi diproduksi.
Dari kedua pilihan tersebut, rasa original disebut masih menjadi favorit pelanggan.
Strategi mempertahankan menu yang sederhana juga berpengaruh pada proses produksi. Serabi bisa dibuat lebih cepat dibandingkan jika harus diberi banyak topping atau isian tambahan.
Produksi Capai 4.000 Serabi Sehari
Meski mempertahankan resep lama, skala produksi Serabi Notosuman Ny. Handayani sudah cukup besar.
Dalam sehari, usaha ini dapat menghabiskan sekitar 200 kilogram adonan untuk menghasilkan kurang lebih 4.000 serabi.
Satu serabi membutuhkan waktu sekitar tiga menit hingga matang. Proses produksi dilakukan secara bertahap agar dapat memenuhi permintaan pelanggan.
Menu yang tidak terlalu banyak membuat proses pembuatan lebih efisien. Selain menghemat waktu, cara tersebut membantu menjaga konsistensi rasa yang menjadi ciri khas serabi mereka.
Serabi ini juga dikenal sebagai salah satu pilihan oleh-oleh khas Solo yang diburu wisatawan.
Harga Terjangkau dan Gerai Makin Luas
Salah satu daya tarik lain dari Serabi Notosuman Ny. Handayani adalah harganya yang relatif terjangkau.
Harga satu serabi berada di kisaran Rp3.000-an, sementara satu paket berisi 10 buah dibanderol sekitar Rp30.000.
Pelanggan tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar Solo. Wisatawan yang datang ke kota tersebut juga menjadi bagian dari konsumen.
Seiring berkembangnya usaha, Serabi Notosuman Ny. Handayani kini tidak hanya dapat ditemukan di Solo. Gerainya juga disebut hadir di sejumlah kota, seperti Surabaya, Magelang, Kediri, Purwodadi, Klaten, dan Bandung.
Generasi Kelima Mulai Membawa Konsep Baru
Meski produk utama tetap mempertahankan resep lama, generasi berikutnya mulai mencoba pendekatan berbeda.
Anak-anak Yohana yang menjadi generasi kelima mengembangkan merek baru bernama Serabi Nyonya Handayani.
Merek tersebut tidak menggunakan nama "Notosuman" dan menawarkan lebih banyak pilihan rasa. Selain original dan cokelat, tersedia pula varian pisang, keju, hingga nangka.
Konsep tersebut menyasar konsumen yang lebih muda dan memiliki selera berbeda.
Menariknya, gerai awal Serabi Nyonya Handayani justru dibuka di Malang dan Bali, bukan di Solo.
Dengan begitu, keluarga tetap mempertahankan identitas serabi klasik melalui Serabi Notosuman Ny. Handayani, sekaligus memberi ruang bagi generasi baru untuk mengembangkan konsep kuliner yang lebih modern.
Pernah Menghadapi Masa Sulit
Perjalanan selama 103 tahun tentu tidak selalu berjalan lancar. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu periode yang cukup berat bagi usaha ini.
Ketika aktivitas masyarakat dibatasi, jumlah pembeli ikut menurun. Setelah kondisi mulai pulih, tantangan lain muncul berupa kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan operasional.
Pengelola memilih tidak menaikkan harga secara drastis karena mempertimbangkan kondisi ekonomi pelanggan.
Namun, kenaikan biaya tetap tidak bisa sepenuhnya dihindari. Harga serabi yang sebelumnya sekitar Rp3.000 kemudian naik menjadi sekitar Rp3.200, salah satunya akibat meningkatnya harga bahan pendukung seperti plastik.
Di tengah kenaikan biaya, kualitas produk tetap menjadi perhatian. Pengelola tidak ingin mengurangi kualitas bahan hanya demi menekan biaya produksi.
Bukan Sekadar Serabi, tetapi Warisan Kuliner
Bertahan selama 103 tahun membuat Serabi Notosuman Ny. Handayani tidak hanya berfungsi sebagai usaha keluarga.
Kuliner ini menjadi bagian dari perjalanan makanan tradisional Solo yang berhasil melewati pergantian generasi dan perubahan selera konsumen.
Resep yang tetap dipertahankan, menu yang sederhana, serta keberanian generasi berikutnya untuk mengembangkan merek baru menjadi kombinasi yang membuat tradisi tersebut tetap hidup.
Bagi pelanggan lama, rasa serabi yang konsisten menjadi alasan untuk kembali. Sementara bagi generasi baru, kehadiran varian dan merek turunan membuka kesempatan untuk mengenal kuliner keluarga ini dalam bentuk yang lebih modern.
Di tengah banyaknya makanan tradisional yang mulai beradaptasi dengan tren, Serabi Notosuman Ny. Handayani justru menunjukkan bahwa mempertahankan cita rasa lama juga bisa menjadi strategi untuk bertahan lintas generasi.
Sumber: Kompas.com, 23 Agustus 2026.


Posting Komentar