Bisnis Makanan Palsu di Jepang Untung Rp 1,2 Triliun

Bisnis Makanan Palsu atau Replika di Jepang (gaijinpot.com)

Njajan.com - Makanan palsu atau replika makanan adalah model makanan yang biasanya dipajang di depan restoran. Makanan palsu ini dibuat sangat mirip dengan menu aslinya sehingga memudahkan pengunjung dalam mengenali seperti apa menu yang disajikan sebuah restoran. 

Sehingga tanpa membaca menu terlebih dahulu, pengunjung bisa mengenali bahan-bahan apa saja yang ada dalam sebuah hidangan. Namun, untuk replika makanan dari Jepang, bukan sekadar meniru model suatu hidangan, tampilan replika makanan tersebut benar-benar sangat realistis atau nyata. 

Makanan Palsu Dibuat Mirip Aslinya


Bahkan, banyak orang hampir tak bisa membedakan mana makanan asli dan mana replikanya. Ya, bahkan makanan replika bisa menghadirkan warna dan tekstur sama persis dengan bahan makanan aslinya.

Baca juga: Ingin Gorengan yang Tidak Biasa? Coba Resep Gorengan Ala Jepang

Sejak puluhan tahun lalu, replika makanan dibuat di suatu wilayah di Jepang dan sampai sekarang menjadi industri makanan replika. Saat ini wilayah tersebut menjadi tujuan wisata bagi turis yang ingin mengetahui seluk-beluk pembuatan replika makanan.

Industri Makanan Palsu Mencapai Rp 1,2 Triliun


Nah, karena minat pebisnis makanan palsu ini sangat tinggi, maka industrinya sangat berkembang. Diperkirakan industri replika makanan di Jepang ini bisa mencapai USD 90 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun.

Kota Replika Makanan


Replika makanan di Jepang dikenal dengan nama shokuhin sampuru atau sampuru. Arti sampuru diambil dari kata dalam bahasa Inggris yaitu 'sample' yang berarti 'contoh'. Seperti yang dikutip dari TheGuardian.com (16/9/2019), sampuru sendiri konon sudah ada hampir 1 abad lamanya. 

Pembuatan sampuru berawal di Gujo Hachiman yang berlokasi di antara Osaka dan Tokyo. Sekarang Gujo Hachiman disebut-sebut sebagai rumah industri replika makanan di Jepang yang bernilai Rp 1,2 triliun. 

Bapak Replika Makanan


Tidak hanya wilayahnya, ada juga sejarah soal sosok 'Bapak Replika Makanan' di sana yang bernama Takizo Iwasaki. Dia pertama kali membuat replika makanan terinspirasi dari lelehan lilin yang jatuh hingga menyerupai suatu bentuk di tatami rumahnya. 

Lalu, Iwasaki mempunyai ide membuat replika makanan dan terus menyempurnakan teknik pembuatan makanan replika dari lilin. Saat itu, usahanya berhasil hingga jadilah replika omelet dan saus tomat yang mirip aslinya. Dulu replika tersebut dipajang di sebuah department store di Osaka tahun 1932. Sejak saat itu industri replika makanan mulai dikenal semua orang.

Makanan Replika Untuk Memudahkan Pengunjung

Contoh Makanan Replika di Etalase Restoran Jepang (nippon100.com)
Contoh Makanan Replika di Etalase Restoran Jepang (nippon100.com)


"Dulu makan di luar bisa jadi tantangan bagi beberapa orang. Jadi pemilik restoran melihat replika makanan sebagai cara untuk memudahkan pelanggan," kata Presiden Sanpuru Kubo, Katsuji Kaneyama. 

Perlu Anda ketahui, perusahaan milik Katsuji Kaneyama adalah salah satu perusahaan replika makanan di Gujo Hachiman yang produknya memenuhi 2/3 pasar domestik replika makanan. Dirinya menekankan trik membuat replika makanan adalah menyeimbangkan antara realisme dan estetika. 

"Semua harus tahu bahwa replika makanan yang terlihat paling lezat belum tentu yang paling realistis," katanya. 

Untuk bahan pembuatan replika makanan yang lebih awet, Kaneyama lebih memilih polivinil klorida (PVC) dibanding lilin. Kaneyama memperkerjakan 10 seniman replika makanan yang mampu menghasilkan 130.000 sampel makanan replika per tahun.

Sekarang perusahaan replika makanan yang lain juga memanfaatkan teknologi printer 3D modern. Namun, hasil printer 3D masih kurang baik dibandingkan makanan replika buatan tangan. 

"Terdapat sesuatu yang berbeda di balik replika makanan buatan tangan, yang saya pikir tidak bisa dibuat menggunakan printer 3D," kata Kaneyama.

Harga Replika Makanan 10 Kali Lipat Lebih Mahal

Harga Makanan Palsu di Jepang Lebih Mahal (detik.com)
Harga Makanan Palsu di Jepang Lebih Mahal (detik.com)


Replika makanan seperti halnya karya seni, sehingga harganya sangat mahal. Harga makanan palsu ini bisa dihitung berdasarkan tiap jenis bahan makanan atau keseluruhan suatu hidangan. Bahkan beberapa harga makanan replika ini bisa mencapai ratusan dolar. Sebagaimana yang dikutip dari BusinessInsider.com (16/9/2019), harga replika makanan secara umum bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal dibandingkan makanan aslinya.

Bagaimana tidak, pembuatan replika makanan dengan tangan benar-benar butuh ketelitian. Pertama, diawali dengan pembuatan PVC menjadi model hidangan. Kedua, hidangan dipanggang dalam suhu tinggi. Ketiga, dilanjutkan dengan melukis dan airbrush replika makanan yang dilakukan satu per satu hingga menghasilkan tampilan hidangan yang hampir sama persis.

Selain itu, replika makanan juga dibuat dalam versi mini untuk oleh-oleh atau cinderamata. Sudah terdapat gantungan kunci hingga casing flashdisk yang terlihat realistis dan jadi buruan para turis. 

Seperti yang dilaporkan oleh Vice.com (16/9/2019), oleh-oleh ini mudah ditemui di Gujo Hachiman yang menjadi destinasi wisata banyak turis. Mereka bisa ikut workshop membuat sampuru atau replika makanan sendiri. Kemudian hasilnya nanti bisa dibawa pulang.

Makanan Replika Tersedia di Vending Machine


Banyak orang tertarik dengan replika makanan di Jepang. Hal tersebut menginspirasi sebuah perusahaan vending machine di Osaka untuk menjualnya. Salah satu mesin bernama Shine tersebut menjual replika makanan mungil yang bisa dijadikan hiasan atau gantungan kunci.

Cara kerja vending machine ini juga terbilang unik. Terdapat 5 langkah yang harus dilakukan untuk membeli replika makanan tersebut. 

Pertama, pelanggan perlu menekan tombol yang berada di sisi kanan. Kedua, mereka harus melihat produk yang ada di layar. Ketiga, pilih replika makanan dalam kisaran harga. Keempat, masukkan uang ke dalam slot koin. Kelima, replika gantungan kunci berbentuk makanan pun akan keluar dengan cepat.

Harga makanan replika di vending machine terbilang cukup mahal. Pada tahun 2018 harganya mulai dari 300-900 yen. Siapapun bisa memesan dua makanan replika sekaligus seperti gantungan kunci bentuk cokelat dan roti yang dibanderol 1.500 yen atau sekitar Rp 195.000.

Replika Makanan Meleleh Saat Suhu Panas

Makanan Replika di Jepang Meleleh (detik.com)
Makanan Replika di Jepang Meleleh (detik.com)


Tahukah Anda, musim panas di Jepang bisa jadi sangat panas hingga membuat aktivitas warga terganggu. Dampak suhu panas tersebut ternyata juga dapat membuat replika makanan meleleh. Ini benar-benar terjadi saat musim panas tahun lalu. Ya, replika makanan di kafe Oasis 21 di Nagoya terlihat mulai berubah bentuk.

Contohnya, replika secangkir matcha latte yang berwarna hijau pekat tiba-tiba mulai luber dan keluar dari bagian cangkir kopi. Sontak, foto melelehnya display makanan ini jadi viral di internet.

Saat itu suhu di Nagoya mencapai 40 derajat Celcius, di mana suhu di dalam jendela replika makanan bisa lebih panas lagi tepatnya mencapai 60 derajat Celcius. Replika makanan sendiri sebenarnya bisa bertahan hingga suhu 100 derajat Celcius, tetapi mendekati suhu tersebut, beberapa bagiannya bisa meleleh atau melunak.

Baca juga: 3 Museum Makanan Unik di Asia yang Wajib Dikunjungi saat Liburan

Demikian fakta mengejutkan tentang makanan palsu atau makanan replika di Jepang yang industrinya mencapai nilai Rp 1,2 triliun. Jika Anda memiliki keahlian dalam membuat replika suatu makanan, apakah Anda tertarik untuk berjualan makanan replika ini di Indonesia?

Apakah pebisnis kuliner di Indonesia bakal tertarik dengan display makanan replika? Sejauh ini masih jarang penggunaan makanan palsu di etalase toko atau restoran. Sebab, sebagian besar restoran masih memajang makanan asli yang siap disantap oleh pelanggan.

Jika artikel Njajan.com bermanfaat, jangan lupa bagikan ke teman-teman yang lain. Terima kasih.


Bisnis Makanan Palsu di Jepang Untung Rp 1,2 Triliun Bisnis Makanan Palsu di Jepang Untung Rp 1,2 Triliun Reviewed by Njajan on September 18, 2019 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.